Skripsi Pasti Berlalu

Oleh: Rais Abdillah

Setelah melalui banyak rintangan, akhirnya skripsi saya menemui ujung ceritanya. Tentunya bukan dengan begitu saja. Sim salabim abrakadabra. Tapi harus melalui proses yang cukup panjang. Masih teringat di mana awal saya menyusun skripsi dari proposal saat semester delapan. Kala itu saya mengajukan judul skripsi mengenai analisis wacana jadinya Basuki Thahaja Purnama alias Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta. Alhamdulillah judul itu diterima oleh para penguji sidang seminar proposal (Semprop) kala itu. Saya lupa tanggal berapa. Tentunnya lulus bersyarat alias revisi.

Hari di mana saya lulus semprop saat itu, saya langsung mendapatkan dosen pembimbing. Cepat bukan? Ya, karena dospemnya adalah Sekertaris Jurusan (Sekjur), dan yang memilihkan dospem adalah dia. Jadi dia memilih dia. Hehe. Padahal surat Baca lebih lanjut

Iklan

Review Film “The Guys”

hqdefaultHidup Itu Pilihan, kan?

Oleh : Rais Abdillah

Akhirnya, film terbaru dari Raditya Dika yang selama ini saya tunggu akan tayang di seluruh bioskop Indonesia. Mengikuti beberapa proses syuting film tersebut membuat saya selalu menunggu tanggal rilisnya film ini. Film ini disutradarai oleh Raditya Dika yang sekaligus menjadi director film tersebut. Dan tanggal 13 April 2017 film ini sudah bisa ditonton. Alhamdulillah saya sudah berkesempatan untuk menonton filmnya. Tentunya tidak sendiri, dengan siapa? Ah, itu tidak penting.

The Guys nama film ini, film ini menceritakan tentang empat pemuda (Alfi, Rene, Aryo, Sukun) yang bekerja di sebuah kantor. Sebenarnya mereka tidak ingin bekerja di kantor tersebut, tapi untuk resign dari kantor tersebut mereka masih tidak berani, karena mereka takut kehilangan gaji dan menjadi tak berpenghasilan.  Mereka harus selalu mengikut aturan-aturan yang ada di kantor tersebut, tidak jarang mereka sering terlambat masuk kerja. Belum lagi masalah Alfi (Raditya Dika) yang selalu gagal dalam hal percintaan. Dan suatu hari ia bertemu dengan wanita yang bernama Amira (Pevita Pearce). Amira adalah putri dari Pak Jeremy yang kebetulan adalah bos dari Alfi. Lambat laun mereka akhirnya saling jatuh cinta, tapi akhir di film ini Baca lebih lanjut

Jangan Menangis, nak!

ol50641308_1_644x461_lukisan-ibu-gendong-anak-bantul-kabeh: Rais Abdillah

Siang ini begitu menyiksa. Matahari begitu terik. Kaca-kaca mobil memantulkan sinar yang silau. Hilir mudik kendaraan membuat debu-debu di jalanan buyar beterbangan. Terhirup lepas oleh orang-orang yang tak berkendara mobil. Polusi di mana-mana. Tak ada pohon. Rumputpun enggan tumbuh jika kondisinya seperti ini.

Tak usah berkeluh kesah dengan kondisi ini, bis Kopaja 86 yang ku tunggu akhirnya melongok di hadapanku, tanpa buang waktu aku segera menaiki bis tersebut. Sudah menjadi rutinitas, aku menaiki bis tersebut pasti sudah kehabisan tempat duduk. Mau tak mau aku harus berdiri. Menggantungkan tangan di besi yang memang sudah tersedia di atap bis. Tak berselang lama aku menaiki bis ini, Seorang laki-laki memasuki bis dengan menggandeng istri dan anaknya. Anaknya terlihat menyandar di dada ibunya, dengan menjinjing tas hitam yang tidak bermerek dan sebuah kardus, entah apa isinya kardus itu. Kardus itu hanya diikat tali rapiah warna merah juga sedikit robek di bagian atasnya.

Baca lebih lanjut

Menjelajahi Puncak Prau, 2.565 Mdpl.

11230581_10200466567862780_6008062224697608976_n

Oleh: Rais Abdillah

Cerita perjalanan ini bermula dari sebuah pesan singkat dari temanku yang mengajak untuk berlibur ke Dieng, Wonosobo. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan ajakan itu. Tetapi, temanku yang lain memberitahu bahwa akan ada yang banyak ikut dalam tour kali ini. Aku pun berpikir ulang, pada akhirnya aku putuskan untuk ikut serta dalam tour ini. Ternyata, kali ini tidak hanya jalan-jalan biasa, namun kami akan naik gunung ke gunung Prau yang letaknya di Dieng, Wonosobo. Tapi tak apa, lagipula aku belum pernah merasakan yang namanya naik gunung.

Kami memutuskan berangkat pada tanggal 8 – 12 Mei 2015. Dengan hasil peserta yang akan berangkat 24 orang. Hari H makin dekat, Berbagai persiapan sudah mulai kami persiapkan. Mulai dari transportasi, konsumsi, peralatan, dan lain-lain. Dana pun sudah mulai terkumpul. Namun sayang, 2 hari sebelum keberangkatan 4 orang batal berangkat, di sebabkan banyak hal. Kami pun tak ingin memaksakan kehendak mereka. Maka jadilah 20 orang yang berangkat dalam perjalanan ini. Kami menamai kelompok ini dengan sebutan “Rempakem Ceria”. Baca lebih lanjut

Review Film Stand By Me Doraemon

hinh_anh_stand_by_me_doraemon__6Nobita, Anak Malas Mengubah Masa Depan

Oleh: Rais Abdillah

Belum satu bulan, tepatnya 10 Desember 2014 telah dirilis sebuah film animasi Jepang. Film yang tentunya sangat tidak asing bagi kita semua, yaitu Stand By Me Doraemon. Masih ingatkan dengan karakter Nobita? Doraemon? Shizuka? Suneo? Gian? Dekisugi? film yang dulunya selalu hadir menghiasi hari minggu tepatnya jam delapan pagi. Mungkin ada yang benar-benar merelakan bangun pagi hanya untuk menonton film ini. Sayangnya, film Doraemon kali ini tidak hadir pada hari minggu ataupun di jam delapan pagi.
Kita semua masih ingat bukan dengan karakter Nobita. seorang anak laki-laki berkaca mata, berbaju kuning dan celana biru pendek, malas, bodoh, pemalu, selalu bangun siang, dan selalu telat pergi ke sekolah. Shizuka, seorang perempuan selain Joyko, ia manis, pintar, dan gemar bermain biola. Suneo, anak orang kaya, ia juga suka memamerkan barang-barang barunya, dan Gian anak laki-laki gendut, yang suka mengajak berkelahi Nobita. Suneo dan Gian adalah, Dua komplotan yang suka sekali mengejek Nobita. dan Dekisugi, mengenali Dekisugi lebih mudah. Ia adalah kebalikan dari pada Nobita. Mudah bukan?
Dalam film yang disutradarai oleh Takashi Ramazaki dan Ryuichi Yagi ini diceritakan bagaimana asal muasal datangnya Doraemon yang kemudian tinggal bersama keluarga Nobita. Film ini dimulai dengan Baca lebih lanjut

Review Buku Kumcer “1 Perempuan 14 Laki-Laki”

1 perempuan 14 laki-laki

Silang Imajinasi

Oleh: Rais Abdillah

Bermula dari kerinduan Djenar Maesa Ayu yang tidak terbendung untuk menulis sebuah cerita fiksi . Ia pun mengakali kerinduan itu dengan menulis cerpen-cerpen yang membuat dia ber-eiforia dengan imajinasinya. Namun, kali ini Djenar tidak membuat cerpen seperti biasa. Umumnya membuat cerpen dengan imajinasi sendiri tetapi sekarang ia susun bersama imajinasi orang lain.

Kali ini, penulis kelahiran 14 Januari 1973 ini menulis cerpen dengan berkolaborasi dengan 14 penulis dari berbagai profesi. Ia tidak merangkai ceritanya sendiri. Setiap satu cerpen, ia susun bersama rekannya. Djenar menulis kalimat pertamanya, kemudian memberikan laptopnya pada rekannya untuk menyusun kalimat kedua. Kemudian bergantian lagi. Begitu seterusnya hingga akhir cerita.

Teman pertama yang ia jadikan teman duet adalah Agus Noor. Dalam kumpulan cerpen ini terdiri dari 14 cerpen. Tak heran Djenar menamai buku ini dengan 1 Perempuan 14 Laki-Laki. Mereka adalah Baca lebih lanjut

Be “Smart Audiens”!

9758Oleh: Rais Abdillah

Dewasa ini, kita tahu semua bahwa kebanyakan dari televisi nasional di Negeri kita telah kebablasan. Seolah tak ada aturan. Tayangan-tanyangan kini secara tidak langsung telah mengikis kebudayaan leluhur bangsa ini. Dan menghancurkan moral generasi muda mudi. Berangkat dari hal tersebut. Maka Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jakarta menyelenggarakan workshop dengan tema “Workshop Peningkatan Sumber Daya Manusia Penyiaran Berbasis Masyarakat”. Acara ini dilaksanakan selama dua hari, 16 dan 17 Desember 2014 di Gedung Prasada Sasana karya, Harmoni, Jakarta Pusat.

Peserta workshop terdiri dari mahasiswa Ilmu Komunikasi berbagai universitas. Seperti Universitas Mercubuana, Universitas Pancasila, Universitas Al-Azhar, Universitas Atma Jaya, Universitas Muhammadiyah Jakarta da masih ada beberapa yang saya lupa nama kampusnya. Universitas Islam Negeri Syarif Hidaytullah Jakarta juga turut memberikan perwakilan untuk acara ini. Saya dan dua orang lagi mewakili UIN Jakarta.

Baca lebih lanjut