Skripsi Pasti Berlalu

Oleh: Rais Abdillah

Setelah melalui banyak rintangan, akhirnya skripsi saya menemui ujung ceritanya. Tentunya bukan dengan begitu saja. Sim salabim abrakadabra. Tapi harus melalui proses yang cukup panjang. Masih teringat di mana awal saya menyusun skripsi dari proposal saat semester delapan. Kala itu saya mengajukan judul skripsi mengenai analisis wacana jadinya Basuki Thahaja Purnama alias Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta. Alhamdulillah judul itu diterima oleh para penguji sidang seminar proposal (Semprop) kala itu. Saya lupa tanggal berapa. Tentunnya lulus bersyarat alias revisi.

Hari di mana saya lulus semprop saat itu, saya langsung mendapatkan dosen pembimbing. Cepat bukan? Ya, karena dospemnya adalah Sekertaris Jurusan (Sekjur), dan yang memilihkan dospem adalah dia. Jadi dia memilih dia. Hehe. Padahal surat untuk pembimbing belum jadi tapi saya sudah bisa bimbingan untuk yang pertama kali.

Bab satu saya pun habis di corat-coret oleh dospem. Coretan dengan tinta merah menyebar di hampir keseluruhan bab satu saya. Mulai dari coretan yang saya pahami sampai yang tidak saya pahami. Begitulah dospem.

Selang beberapa hari, saya mulai merevisi bab satu saya, perlahan tapi pasti. Tapi sayang, belum rampung revisian saya, saya mulai disibukkan dengan banyak kegiatan. Mulai dari acara keluarga, sampai kegiatan organisasi. Skripsi pun terbengkalai.

Kurang lebih enam bulan saya menghadap dospem lagi. Menghadap dengan hasil revisian bab satu kemarin. Tapi apa jawaban dospem ketika saya menghadap beliau? “emang kamu bimbingan saya, ya?” saya pun mengiyakan dan langsung menyerahkan surat yang menyatakan bahwa memang benar dia adalah dospem saya. Kacau dalam hati saya. Dospemnya saja sudah lupa.

Sebelum menghadap dospem kedua kalinya saat itu, saya berharap besar bimbingannya lancar sehingga saya bisa melanjutkan bab selanjutnya. Tapi ternyata itu hanyalah harapan. Saya habis dimaki oleh dospem. Bab satu saya masih dipenuhi coretan-coretan tinta merah yang saya sendiri bingung di mana letak kesalahannya. Padahal bab satu saya itu tidak jauh berbeda dengan skripsi-skripsi pada umumnya. Woalah.

Saya pun keluar ruangan beliau dengan perasaan yang berkecamuk. Tapi bukan berkecamuk antara senang dan sedih, tapi sedih dan jengkel. Apa sih maunya dospem itu. Tapi saya tetap berusaha untuk mengikuti apa yang diingini dospem. Semakin saya turuti, ternyata saya semakin tidak kuat dengan caranya. Bagaimana tidak? Selain banyak coretan yang harus diperbaiki itu, banyak hal aturan yang diberlakukan untuk saya di mana mahasiswa lain tidak diberlakukan. Contohnya, saya tidak boleh menggunakan referensi buku karangan Eriyanto. Saya harus menggunakan literature asli dari pengarang teori yang saya pakai saat itu. Teori analisis framing menurut Erving Goffman. Sedangkan memahami analisis framing lebih mudah dari buku karangan Eriyanto. Aturan kedua adalah, saya tidak boleh mencari referensi buku apapun dari perpustakaan fakultas atau perpustakaan utama kampus. What? Saya harus mencari referensi dari perpustakaan kampus lain. Kampus mana saja selain kampus UIN Jakarta.

Saya merasa hal-hal ini sudah tidak wajar. Saya pun memutuskan untuk mengganti dosen pembimbing. Saya merasa dipersulit. Tapi ternyata, mengganti dospem pun tidak semudah yang saya bayangkan. Saya dilempar secara administrasi antara Sekertaris Jurusan dan Kepala Jurusan. Mereka saling melempar tugas. Hari ini saya disarankan hanya perlu mengganti Dospem, tapi keesokannya saya harus mengulang seminar proposal jika ingin mengganti dospem. Tempat pendidikan tapi seolah tidak mendidik.

Dengan berat hati, saya pun ikut ujian seminar proposal ulang. Tentunya dengan judul yang berbeda. Karena judul skripsi yang lama saya pikir sudah tidak menarik untuk dikaji. Tapi pergantian judul ini tidak semulus yang saya pikirkan. Saya harus berkonsultasi ulang dengan dosen penasehat akademik mengenai judul baru yang akan saya ajukan. Ya, lagi-lagi kendala penolakan judul. Saya pun harus mencari opsi judul lain lagi.

Empat semester sia-sia saya habiskan untuk bergelut dengan skripsi. Karena pada saat semester sepuluh dan sebelas saya sempat kerja, dan skripsi saya pun entah bagaimana kabarnya. Awal semester 12 tepatnya pada bulan mei, saya memulai mengerjakan projek skripsi saya lagi. Dengan sekali konsultasi dengan dosen penasehat akademik akhirnya judul saya di acc. Sehingga sudah bisa saya ajukan ke ujian seminar proposal skripsi.

Alhamdulillah judul saya lulus, walaupun dengan revisi lagi. Tapi tak apa. Ketika saya mengajukan dosen pembimbing, saya khawatir tragedi silam akan terulang lagi, yaitu diberikan dospem sama seperti dulu lagi. Hahaha. Tapi syukurnya, itu tidak terjadi. Yesss. Saya mendapatkan dospem killer, katanya. Dosen yang selalu ingin mahasiswanya lulus dengan memuaskan. Perfectionis.

Ternyata, yang katanya dosen killer itu salah besar. Dospem saya kali ini asyik. Jauh lebih asyik ketimbang dospem yang pertama. Walaupun katanya saya keluar kandang macan masuk kandang singa. Dospem kali ini mempunyai caranya sendiri dalam membimbing. Ia memang tidak mau membimbing kalau memang mahasiswanya itu tidak menguasai masalah yang akan di kaji ataupun metodologi yang akan digunakan. Saya sebelum bimbingan pertama ditanyai tentang masalah yang akan saya kaji, metodologi yang saya gunakan termasuk teori yang akan saya terapkan. Syukurnya saya bisa melewati tahap itu.

Kali ini, saya lebih serius, usai bimbingan pertama saya langsung merevisi bab satu saya. Eiiitss, tapi revisinya tidak sebanyak dan tidak seabsurd dospem pertama. Setelah bab satu selesai dan rapih, saya diinstruksikan untuk mengerjakan bab dua, bab tiga dan bab empat sekaligus. Setelah itu barulah saya menghadap. Kemudian diikuti dengan proses wawancara dengan narasumber yang berkaitan dengan skripsi saya.

Untuk menyelesaikan garapan skripsi kali ini saya membutuhkan waktu satu setengah semester, itu pun terpotong malas plus jalan-jalan ke luar kota. Di semester 13 saya akhirya bisa menyelesaikan skripsi saya. Tapi sayangnya karena waktunya agak sempit, jadi saya tidak bisa dapat jadwal sidang di semester 13 tapi di semester 14. Mau bagaimana lagi, saya hanya ingin lulus, asalkan lulus. Itu sudah cukup buat saya. Jawaban klise para mahasiswa tingkat akhir. Hehe.

Jalan memang tak selalu berjalan mulus. H-1 dari jadwal sidang saya, tiba-tiba sidang saya dibatalkan. OMG. Padahal saya sudah mengcopy lima bundel skripsi. Belum lagi makanan yang sudah dipesan, hari itu tiba-tiba saya sibuk mengbatalkan semua pesanan. Ada apa ini? Setelah saya menghadap Kepala Jurusan, ternyata skripsi saya tidak sesuai dengan standar skripsi penguji yang memang esoknya akan menjadi penguji saya. Sidang saya pun hari itu batal.

Dua minggu setelah jadwal pembatalan sidang itu saya mendapatkan jadwal lagi, itupun karena saya mengurus pendaftaran ulang lagi, kalau tidak diurus? Mungkin sampai tulisan ini terbit di blog, saya belum juga sidang. Tepat 10 Maret 2017 saya sidang ujian skripsi. Setelah selesai, saya pun dinyatakan lulus, dan dinyatakan resmi menjabat gelar sarjana sosial. namaku pun bertambah sedikit menjadi Rais Abdillah, S. Sos.  Sekarang aku hanya perlu mengurus proses pendaftaran wisuda. Tepatnya wisuda ke 104. Yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2017 mendatang. Walaupun saya lulus di semester akhir, euforia menjelang pelaksanaan wisuda tetap terasa dan tetap membanggakan bagi saya juga keluarga.

Kalau ada orang lain berkata “telat aja bangga!” saya akan tersenyum lebar dan  menjawab “hei bung! setidaknya saya mengakhiri apa yang sudah saya mulai!” karena mengakhiri apa yang sudah dimulai itu sulit, butuh perjuangan. Tanpa perjuangan kau tak akan bisa.

***

Jakarta, 27 April 2017

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s