Pamit

Oleh: Rais Abdillah

“Tidak semua kepergian harus diawali dengan berpamitan”

“Gubrak….” Sebuah bus mini tiba-tiba menabrak sepeda motorku, seketika aku terpental kurang lebih lima meter dari posisiku berhenti tadi.

Sebuah bus mini dengan kondisi rem blong dengan lantang mencium sepeda motorku, hingga aku pun menjadi sasaran kecelakaan itu, supirnya hampir tidak terluka, justru ia malah kabur seolah tak bersalah.

“Astagfirullah…” teriak orang-orang.

“Tolongin cepat!” pinta salah satu orang yang berhenti dengan sepeda motornya.

Aku pun dibopong oleh tiga orang pria kemudian masuk dalam sebuah mobil, entah itu mobil siapa, aku tak sempat bertanya siapa pemilik mobil itu, atau siapa yang mengemudikannya. Bicara saja sulit, apalagi mau bertanya sesuatu. Masih bisa melihat dan mendengar sekeliling saja sudah untung.

Tanganku terjulur lemas bersimbah darah, pandangan mataku lama kelamaan mulai pudar, tubuhku pun sakit tidak karuan, aku belum melihat jelas bagian mana yang terluka, aku hanya melihat warna darah menetes, lokasi tempat aku terjatuh terlihat jelas genangan merah pekat bekas darah.

Tanpa pikir panjang, aku dilarikan ke sebuah rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Depati Bahrin yang berada di Sungailiat, Bangka Belitung. Aku tinggal di Pangkalpinang, sedangkan saat itu, aku ingin bertemu dengan kawan lamaku yang berada di Sungaliat. Aku pun memutuskan untuk pergi ke sana dengan sepeda motor, walaupun cuaca kala itu tampak mendung, seperti mau hujan deras. Tapi, aku tetap pergi.

“Agak cepat, Mas! ” kata pria yang memangku badanku di kursi tengah mobil. Suasana riuh di dalam mobil, pria yang memangku badanku sedari tadi hanya menutupi bagian samping kanan kepalaku dengan kain tebal, kainnya berwarna merah, karena darah terus saja mengalir keluar dari kepalaku.

Mobil yang membawaku pun menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil pun terasa lebih cepat dari sebelumnya. Bunyi klakson tak henti-hentinya dibunyikan, mungkin sang supir ingin menandakan bahwa saat ini keadaan sedang genting. Tapi memang genting. Sebab, ini menyangkut nyawa. Tepatnya nyawaku sendiri.

Entah kenapa badanku mulai terasa dingin, aku mengeriang kesakitan. Aku hanya berfikir apa aku masih bisa selamat, atau inikah penghujung jalan cerita hidupku. Coba saja, tadi aku tidak memaksakan pergi, pasti tidak seperti ini kejadiannya. Coba saja, tadi aku berhenti pada tempat seharusnya motor, pasti tidak begini. Ah, dari tadi hanya coba saja, coba saja, sekarang aku sudah berkucuran darah, masih sempatnya berfikir coba saja. Dasar!

Itulah keadaan terakhir yang aku ingat, setelahnya aku tak ingat apapun. Sama sekali tak ingat. Mungkin saat itu aku jatuh pingsan. Karena memang aku tak kuat menahan sakit akibat luka dan banyak darah yang keluar.

***

“Sayang…” seorang wanita muda membangunkanku dari sisi kiri tempat aku terbaring.

Aku hanya memandangi wanita itu dengan mengerutkan wajahku, penuh heran. Aku hanya fokus melihat sekelilingku, aku mulai menyadari bahwa keadaanku memang parah. Aku melihat kaki kananku terlilit perban dari telapak kaki hingga lutut. Belum lagi tangan kiriku juga tak bisa digerakkan. Sama sekali aku tak merasakan.

Aku belum menghiraukan wanita muda disampingku itu. Ia hanya menangis kecil, sesekali ia mengusap air matanya. Tapi aku masih saja bertanya bagaimana keadaanku.

“Kamu siapa?” tanyaku pada wanita muda itu.

“Aku Ela, Istrimu, Mas,” jawabnya.

“Istriku?” aku bertanya keheranan. “Kapan aku menikah?” tambahku lagi.

“Kamu tidak ingat denganku, Mas?” tanyanya lagi.

Aku hanya menggeleng kepala. Wanita itu hanya menangis. Tangisannya lebih kencang dari awal tadi. Tapi aku tak ikut menangis, aku hanya diam. Wanita itu kemudian pergi.

Tak lama berselang, wanita itu datang dengan dokter berseragam putih khas dokter, mengalungi stetoskop dan sebuah nametag di dada sebelah kiri bertuliskan Dr. Ali Hutapea.

“Dok, suami saya kenapa?” tanya wanita muda itu pada dokter.

“Untuk pastinya kami belum tahu, karena hasil diagnosis dari rumah sakit belum keluar, kemungkinan sore ini sudah bisa keluar suratnya,” jelas dokter.

“Untuk sementara, suami ibu jangan diberi pertanyaan macam-macam, karena itu akan membuat susah berfikir, kemungkinan besar ini efek benturan kepalanya di kejadian kecelakaannya tujuh hari yang lalu.” tambah sang dokter.

Aku kaget setelah mendengar dokter mengatakan kejadian tujuh hari lalu, sedangkan aku baru saja terbangun. Artinya selama tujuh hari aku terbaring pulas di kasur ukuran satu meter setengah kali delapan puluh sentimeter ini.

“Bapak harus banyak istirahat, ya,” kata dokter, kemudian ia pamit dengan wanita muda itu, lalu pergi.

Jam dinding ruangan itu menunjukkan pukul lima sore lebih seperempat, tak lama berselang datang satu wanita tua, juga seorang pria paruh baya. Aku juga tak tahu mereka siapa. Mereka hanya datang dengan raut wajah sedih.

“Bagaimana keadaannya?” tanya wanita tua itu ke wanita yang muda, yang katanya istriku itu.

“Dia baik-baik saja, bu,” jawabnya dengan sedikit memeluk wanita tua itu.

“Alhamdulillah,” jawab syukur si ibu tua itu.

Sedangkan pria paruh baya itu hanya berdiri diam di samping kananku. Aku juga tak begitu memperdulikannya. Siapa dia pikirku. Saat ini, ruangan ini begitu ramai, banyak yang berdatangan, dua orang masuk silih berganti, kemudian mereka keluar dan masuk lagi dua orang lainnya. Seperti bergilir.

Oh iya, aku baru ingat, mungkin ini jam besuk, sehingga banyak yang pergi menjenguk kerabatnya yang sedang sakit. Termasuk aku yang dijenguk, tapi aku sama sekali tak mengenal siapa yang menjengukku, katanya mereka adalah keluargaku. Tapi aku tidak yakin mereka keluargaku.

Sampai saat ini, aku tak bisa mengingat siapapun, jangankan mereka yang katanya keluargaku, namaku saja aku tak ingat, apalagi tempat tinggalku, aku hanya ingat aku terjatuh dari sepeda motorku seminggu lalu, selebihnya tidak. Aku mencoba mengingatnya, tapi tidak bisa. Kosong semua bayanganku.

Pukul sudah menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit, para perawat masuk mengingatkan bahwa jam besuk sudah habis. Wanita tua beserta pria paruh baya tadi bergegas pulang. Entah mereka pulang kemana, yang pasti pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal wanita muda itu yang tersisa, ia masih saja duduk di kursi di sebelah kiri tempat tidurku. Ia masih tampak sedih. Kasihan sekali dia.

Sejenak aku terdiam, sambil menoleh kanan kiri, hanya ada selang infus di mana-mana, dan bebuahan di atas lemari samping kanan kasurku, juga tiga pasien lain yang terbaring bersebelahan denganku. Mungkin mereka mengalami jatuh dari sepeda motor juga sama sepertiku, tapi bisa juga tidak. Karena aku tak mengenal mereka dan belum bertanya mereka sakit apa. Tapi aku juga tak peduli, kenal saja tidak.

Kepalaku makin lama makin sakit, sakit bukan kepalang, aku hanya mengeram kesakitan, sesekali tak bisa bernafas. Sehingga kadang wanita muda yang menjagaku harus memanggil dokter untuk memberitahu keadaanku, dengan segera pun dokter datang kemudian menyuntikku, selepas itu barulah aku bisa bernafas lagi. Selalu begitu.

“Saya kenapa?” tanyaku pada wanita muda itu.

“Kamu hanya pusing, dan butuh waktu untuk istirahat,” jelas wanita itu sambil menangis.

Sudah, aku tak bertanya lagi. Dokter pun tak lama datang memanggil wanita muda itu.

“Bu Ela, bisa ikut saya sebentar,” dokter mengajak wanita itu keluar. Entah mereka mau membicarakan apa.

Malam itu, terasa sangat sunyi, tak ada suara sedikitpun. Hanya ada suara monitor yang sering aku liat di televisi yang berguna untuk mendeteksi jantung, yang jika mati orangnya, maka suara mesin itu akan bergaris lurus di layarnya. Itulah yang sering aku liat di televisi. Oh iya, aku baru ingat, nama alatnya elektrokardiogram atau istilahnya alat EKG.

Aku takut, aku takut layar monitor yang mendeteksi jantungku ini bergaris lurus. Sesekali aku bangun dari tidurku, aku melihatnya mesin itu, dan syukurnya masih bergelombang, belum lurus. Aku terbangun saat pukul dua dini hari, setelah itu aku tak ingat lagi. Entah aku tertidur lagi, atau aku pingsan.

***
Pintu ruangan seperti berderit halus, seperti suara pintu yang dibuka oleh orang yang mengendap-ngendap. Tak ada suaranya. Angin pun terasa hilang. Sesekali seperti suara lolongan anjing, tapi tak mungkin pikirku, ini di rumah sakit, bukan di kampung dan juga bukan hutan. Mungkin itu hanya halusinasiku saja.

“Aaaahhh..” aku mengeram sakit, kali ini sungguh sakit, bahkan sangat sakit bukan kepalang. Seperti ada sosok yang menarik kakiku, perlahan ia menariknya dari kaki hingga bagian badan atas. Suasana sontak menjadi tak karuan, ada apa denganku, aku berteriak sakit, tapi sepertinya tak ada yang mendengar. Buktinya wanita sebelahku ini tidak terbangun, pasien lain pun tidak ada yang bangun, kemudian berkata jangan berisik.

Sakit yang kualami semakin menjadi-jadi, kini sudah merembet ke bagian pinggang, dan tanganku juga mulai meregang. Jika boleh aku bilang, sakit yang kurasakan seperti kulitku dikelupas perlahan dari bawah hingga atas. Sangat perih. Sakitnya sudah menjalar ke bagian dada. Sekarang aku sudah tidak bisa merasakan anggota tubuhku. Hampa.

Seketika, ada seorang pria datang, mengenakan jubah putih, aku tak kenal siapa dia, tapi aku selalu mengingatnya, karena wajahnya tak begitu asing. Ia mengajakku pergi entah kemana, ia hanya memintaku untuk mengikutinya. Aku pun mengiyakan. Aku sempat heran, bukankah aku sedang sakit, tapi kenapa aku bisa berjalan. Berlari pun aku bisa sekarang. Tapi biarlah. Yang penting aku sudah sehat pikirku.

Aku masih belum ingat dengan orang yang mengajakku itu, wajahnya cerah penuh senyum, ia mengajakku pergi melewati sebuah lorong gelap, sangat gelap. Hanya ada satu titik terang yang ujung lorong ini. Berdua kami menyusuri lorong ini, jaraknya cukup jauh. Karena dari tadi kami berjalan, kami belum saja mencapai ujung lorong ini. Anehnya lagi, aku sudah berjalan jauh, tapi aku tak sedikitpun merasa lelah, aku hanya berjalan terus menyusuri lorong ini.

Akhirnya tibalah aku di penghujung lorong ini, takjub bukan kepalang ternyata di balik lorong ini ada sebuah taman indah, bahkan jika ada kata melebihi indah, maka itulah sebutan untuk tempat ini. Pepohonan di mana-mana, lengkap dengan buahnya. Kapan saja aku boleh memetik buahnya, kata orang yang mengajakku itu.

Oh iya, aku ingat, orang yang mengajakku itu adalah orang yang pernah aku tolong saat ia tertimpa musibah rumahnya terbakar beberapa bulan lalu. Aku memang saat itu tak sengaja lewat gang depan rumahnya, dan ia berteriak minta tolong karena anaknya masih terjebak di dalam rumah. Aku pun berusaha menolong pria itu. Setelah api padam, aku pun pergi. Tapi aku masih bertanya-tanya, mengapa pria itu mengajakku. Dari mana ia tahu tempat seindah ini. Aku bingung.

Mataku tak pernah lepas dari memandangi tempat ini, sesekali jalan aku menemukan sungai kecil yang airnya jernih luar biasa, tak ada kotoran sedikit pun. Aku pun puas meminum airnya. Hamparan hijau yang luas ini membuatku ingin tinggal di sini. Tak mau pulang.

Sesekali aku bertanya pada orang yang mengajakku itu, bolehkah aku tinggal di sini. Tentu boleh, kata orang itu. Justru inilah tempatmu, katanya. Bahagia bukan main aku saat ini. Aku pun berniat minta izin orang rumah untuk memilih tinggal di sini. Aku akan pulang sebentar.

Aku pun menyusuri lorong tadi, keadaan lorong masih sama. Masih gelap. Tapi aku berjalan sendiri tidak dengan orang yang mengajakku tadi. Aku tak sabar untuk kembali ke tempat tadi, aku selalu terbayang keindahan tempat itu, tak ada bayangan lain selain tempat itu.

Tibalah aku keluar dari lorong ini, masih di tempat yang sama di mana aku berangkat, di rumah sakit. Ruangan penuh dengan tangisan, aku pun langsung teringat semua tentang diriku, namaku Faisal, orang-orang kerap memanggilku dengan sebutan Ical. Aku ingat wanita muda yang menemaniku selama di rumah sakit, ia adalah istriku, Ela Damayanti namanya, juga wanita tua kemarin yang datang, dia adalah ibuku, Sunarsih. Sedangkan pria paruh baya itu adalah pamanku, adik dari ibuku. Rahmat.

Mereka hanya menangis mengelilingi kasur di mana aku terbaring sebelumnya. Aku memanggil mereka, namun mereka seakan tak memperdulikanku. “Ibu…” panggilku.“Sayang..” panggilku juga kepada istriku, tapi ia juga tak menjawab. “Paman, kenapa kalian menagis?” dia juga sama sekali tak menjawab.

Kehadiranku seolah tak dirasakan oleh mereka, aku tak tahu harus bagaimana. Sedangkan aku harus pamit, aku ingin tinggal di tempat yang baru aku kunjungi tadi. Aku hanya melihat tubuh yang terbaring di tempat pembaringanku tadi di sebuah ruangan ICU itu, tubuh itu ditutupi kain putih sekujur tubuhnya dan layar mesin pendeteksi jantung itu bergaris lurus.

“Tiiitttttttttt…….”

Pangkalpinang, 11 November 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s